Pewahyuan pada muhammad

JIBRIL MENCEKIK MUHAMMAD – SAAT MENURUNKAN
WAHYU ALLAH KEPADANYA
Kapankah pewahyuannya mulai? Bagaimana Muhammad
mengaku bahwa dirinya adalah nabi? Siapa yang
mengatakan kepadanya bahwa dia adalah Rasul Allah
untuk bangsa itu? Kisahnya dimulai di gua Hira ketika
Muhammad bertapa hingga terlelap. Lalu datanglah satu
sosok (ruh) yang memaksanya membaca sesuatu hingga
3 x sambil mencekiknya setiap kali ia (Muhammad)
menjawab ”Aku tak bisa membaca”. Apa komentar para
ahli dan sarjana Muslim tentang kisah ini?
Al-Halabi menulis: “Muhammad takut bahwa yang
memberikan wahyu kepadanya adalah setan, namun
Khadijah memastikan dengan mengatakan kepadanya,
Iblis tidak mempunyai kuasa atas dirimu.”
(Al-Sira Al-Halabia oleh Al-Halabi, hal. 380. Lihat juga
Hadith of Sahih Muslim & The Life of Muhammad oleh Dr.
Muhammad Hussein Haikal (1982), hal. 148-149.)
*[Dan bagaimana Khadijah mampu memastikan hal-hal
tentang ruh dan kenabian, sementara dia hanya seorang
awam-agama dan pedagang, dan bahkan belum tahu
Islam?]
Al-Suyuti (Imam Abu al-Fadl ‘Abd al-Rahman ibn Abi Bakr
Jalal al-Din al-Suyuti (1445-1505) adalah seorang guru
Mesir, mengarang hampir 500 karya tulis; salah satu
penulis Muslim yang produktif. Dia biasa dikenal dengan
sebutan “Al-Suyuti.”) menerangkan:
“Muhammad takut bahwa yang muncul di hadapannya
di gurun adalah setan dan dia tidak dapat meyakini
bahwa itu adalah malaikat Tuhan, oleh karena itu, dia
biasanya diselimuti oleh ketakutan, badannya akan
bergetar dan warnanya akan berubah. Dia biasanya
mengatakan kepada Khadijah, saya takut akan setan-
setan itu atas hidup saya, namun Khadijah akan
meyakinkan dia, engkau bukanlah orang yang bisa
disentuh oleh iblis.” (The Jurisprudence of the Life of
Muhammad oleh Al-Suyuti, hal. 68-69.)
Mempelajari sejarah Muhammad menimbulkan banyak
pertanyaan. Tidak dapatkah si pembawa wahyu turun
kepadanya tanpa menimbulkan banyak masalah?
Tidakkah si malaikat dapat meyakinkan Muhammad
bahwa dia adalah Rasul Allah? Apakah dia tidak mampu
meyakinkannya mengenai panggilannya? Bagaimana
mungkin malah istrinya yang meyakinkan Muhammad
daripada si malaikat yang diutus itu? Tidak dapatkah
malaikat menghilangkan kebingungannya, sampai-
sampai dia mengira malaikat itu adalah setan? Bukankah
malaikat tersebut dapat dengan mudah membuktikan
bahwa dirinya adalah malaikat Tuhan, jika dia memang
benar-benar demikian? Disinipun kita sudah menemukan
kejanggalan luar biasa!
Tapi ada yang lebih janggal lagi: Bagaimana Muhammad
dan Khadijah pada akhirnya yakin bahwa Muhammad
adalah salah satu dari para nabi? [Sebuah testing yang
berkonotasi sex dilakukan oleh Khadijah terhadap Ruh/
Jibril.]
Ibn Hisham menulis:
“Khadijah mengatakan kepada Muhammad, apakah
engkau dapat mengatakan kepadaku tatkala kawan
yang mengunjungimu (ruh/ Jibril) itu datang? Muhammad
menjawab, ”Ya”. Ketika dia datang, Muhammad
memberitahukan kepada Khadijah. Khadijah berkata lagi
”Apakah engkau melihatnya sekarang”? Muhammad
menjawab, ”Ya”. Dia mengatakan, berbaliklah dan duduk
di paha sebelah kananku. Muhammad pun
melakukannya. Dia mengatakan kepadanya, ”apakah
engkau masih dapat melihatnya”? Muhammad
menjawab, ”Ya”. Khadija kecewa dan membuka
kijabnya dan melemparkannya ke bawah, saat
Muhammad sedang duduk di pangkuannya, Khadijah
berkata kepada Muhammad: ”Apakah engkau masih
dapat melihatnya”? Dan Muhammad menjawabnya,
”Tidak”. Khadijah berkata kepadanya: ”Yakin dan
bersukacitalah, demi Allah, dia adalah malaikat dan
bukan setan, karena setan tidak akan malu (dan
menghilang jika wanita membuka baju), tidak seperti
malaikat.” (The Life of the Prophet by Ibn Hisham, hal.
174.)
*[Inilah “testing sexualitas” yang dilakukan oleh Khadijah
untuk membuktikan bahwa ruh pewahyunya
Muhammad adalah ruh dari Tuhan, dan ini adalah “satu-
satunya bukti” tentang kenabian Muhammad, yang
bahkan tidak perlu dibuktikan oleh Ruh/ Jibril atau Allah
sendiri.]
Cerita ini telah ditulis dalam banyak referensi Islam.
(Lihat The Beginning and the End oleh Ismail Ibn Kathir,
Vol. III, hal. 15; Sirat Al-Maghzai, oleh Ibn Ishaq, hal. 133;
Rawd Al-Unuf oleh Ibn Hisham, hal. 271-272; The Life of
Muhammad oleh Dr. Haikal (1982), hal 152; dan Al-Isaba fi
tamyiz al-Sahaba (Finding the Truth in Judging the
[Muhammad’s] Companions) oleh Ibn Hajar Asqalani
(1372-1449), Vol IV, hal. 273.)
Ini adalah ujian dari Khadijah untuk memastikan bahwa
Muhammad adalah seorang nabi, dan bayangan tersebut
adalah malaikat, bukan setan. Masuk akalkah ini?!
Semua nabi-nabi terdahulu tidak perlu diyakinkan
mengenai wahyu dari Tuhan. Lalu mengapa cerita
tersebut dibutuhkan untuk memastikan pemanggilan
Muhammad sebagai nabi? Tidakkah Tuhan dapat
memberikan semua pengetahuan tersebut kepada
nabinya tanpa cerita-cerita dongeng yang aneh-aneh?
Saya melihat keganjilan lainnya. Mengapa ruh yang
diutus menurunkan wahyu itu harus mencekiknya hingga
hampir mati, tiga kali? Cerita itu menimbulkan banyak
pertanyaan dan keanehan.
*[Dan lagi, sebetulnya apa perlunya penyampaian teks
tersebut harus mati-matian dipaksa baca oleh
Muhammad yang memang ummi itu? Bukankah Qur’an
sendiri diyakini diturunkan dengan ayat-ayat yang
“terang”, dengan “lidah Arab yang jelas?” Surat 57:9,
26:195, dll.]
Al-Halabi mencatat:
“Setiap kali (bagian dari) Al-Qur’an turun kepada
Muhammad, dia akan pingsan setelah sebelumnya dia
gemetar dan merinding. Matanya tertutup dan mukanya
letih dan dia akan mendengkur seperti unta. Hal-hal
tersebut terjadi kepadanya sebelum pewahyuan turun
kepadanya. Mereka juga berusaha melindunginya dari
mantra si mata jahat.” (Al-Sira Al-Halabia oleh Al-Halabi,
hal. 407.)
Dia juga mencatat:
“Pada waktu wahyu turun kepadanya, dahi Muhammad
akan berlumuran keringat, bahkan pada hari-hari dingin,
dan matanya akan menjadi merah seperti orang mabuk.
Muhammad biasa mengatakan, Setiap kali saya
menerima wahyu, aku berpikir bahwa aku akan
mati.” (Al-sira Al-Halabia, hal. 115.)
Setiap dokter cenderung memastikan bahwa hal-hal
tersebut adalah tanda-tanda penyakit epilepsi. Mengapa
seorang nabi besar mendapatkan serangan sejenis
epilepsi ketika sebuah wahyu turun kepadanya? Yang
seharusnya terjadi dalam setiap penampakan
selayaknyalah kedamaian, suka cita, keyakinan dan
kepercayaan. Dapatkah kita belajar mengenai sifat asli
dari “Jibril,” yang justru memberikan dampak buruk
seperti yang dirasakan oleh Muhammad?
Namun, apakah seorang malaikat benar-benar muncul di
hadapan Muhammad? Atau itu adalah ciptaan
imajinasinya sendiri? Saya yakin itu bukan malaikat.
Pertama, malaikat Tuhan membawa damai sejahtera
bukan ketakutan! Sebagai contoh, ketika malaikat
datang ke Maria untuk menyampaikan berita tentang
kelahiran dari Kristus, hal pertama yang dia katakan
adalah, “Damai sejahtera atasmu.” Maria dipenuhi
dengan kedamaian, iman dan suka cita. Dia tidak dicekik,
ataupun mengalami pengalaman yang aneh-aneh, sakit
kepala dan mata berputar-putar. Malaikat asli datang
dengan kedamaian, bukan dengan gejala epilepsi!
(Banyak pemuka Islam resah karena tidak ada cara
untuk memahami kenapa wahyu harus disampaikan
dalam tekanan yang begitu menyesakkan nabinya.)
Kedua, tidakkah “Jibril” mengetahui saat yang tepat
untuk mengunjungi Muhammad, untuk tidak datang saat
dia sedang duduk berduaan di pangkuan istrinya?
*[malahan digambarkan disitu bahwa ”Jibril” berkeliaran
tanpa menurunkan wahyu atau entah apa kerjanya
secara khusus. Bukankah kehadirannya tidak akan
sembarangan, melainkan penuh makna, khidmat dan
berotoritas? Dan bukan asal-asalan – bahkan tidak
senonoh – seperti yang didongengkan itu? (Lihat
Qs.53:4-14)]
Malaikat macam apa yang tidak menyadari hal sekecil
ini?
Ketiga, apakah seorang malaikat datang kepadanya
dengan ayat-ayat, kemudian pada hari berikutnya demi
menghapus ayat-ayat tersebut, sebagaimana yang
terjadi dalam Surat An-Najam (Surat 53, An-Najam
(Bintang) dalam bentuk aslinya, yang Muhammad kemu-
dian mengatakan datang dari iblis, bukan dari jibril. Lihat
terjemahan Al-Qur’an oleh Rodewll (1861), Surat 53,
catatan kaki #7.), dan banyak yang lainnya? (nasikh dan
mansuk) artinya ayat yang lebih baik diturunkan untuk
menggantikan ayat yang diyakini kalah baik (termasuk
kekurangan dan kekeliruan) mengenai topik yang sama,
sepertinya tuhan Muhammad mengatakan, “Oops!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: