Selamat datang amerika

selamat datang Amerika!!! kami
menantikan anda untuk
memberantas teroris dan anarkis di
indonesia. berikut ini daftar teroris
yang harus anda berantas:
1. abubakar baasyir (ustad cabul, ada
santrinya yg
dihamili, tapi kasusnya dibungkam)
2. riziq shihab (ayahnya eks komunis
Yaman Utara,
Riziq sekarang jadi habib, nggak
cabul tapi bininya
berjibun, belum diketahui apakah
Riziq juga komunis
seperti ayahnya atau benar2 Islami)
3. Fadel Mohammad (mata2
Palestina, SBY dapat
bocorannya dari BIN makanya arab
satu ini langsung
digeser dan diawasi pergerakannya
sampai ada bukti
nyata)
4. Fuad Bawazier (provokator, punya
keinginan mendiri-
kan Negara Islam berpaham Wahabi/
paham radikal yg
suka mengkafirkan sesama islam yg
tdk sepaham dgn
mereka)
5. Munarman FPI (kakeknya adalah
tokoh komunis di
Jogja, kakeknya bertanggungjawab
atas penculikan
Kolonel Katamso, dulu dia menentang
Soeharto yg
tentunya karena Soeharto anti
komunis, aneh kalau
tiba2 Munarman sekarang bisa jadi
anggota FPI, apa
kebetulan bisa bergabung dengan
Riziq yg juga
keturunan komunis?)
6. Tifatul sembiring
sama seperti Mochtar Pakpahan,
ayah tifatul sembiring terlibat
peristiwa terbunuhnya Peltu
Soedjono di Bandar Betsy, Sumatera
utara. Peltu Soedjono dipacul
kepalanya sampai pecah oleh sekitar
200 petani binaan PKI. Sampai
matinya, Peltu Soedjono menolak
menyerahkan topi TNI-nya. Dia
memilih mati secara kstaria daripada
harus menyerahkan topi yang sama
saja artinya dengan menyerah kalah.
Salah satu petani bengis itu adalah
ayahnya Tifatul Sembiring.apakah
kebetulan belaka kalau anak yaitu
Tifatul sembiring sekarang jadi tokoh
politik dari parta* berbasis agama?
Data2 ini adalah bocoran dari teman
sy yang anggota Badan Intelijen
Negara (BIN), bersifat Top Secret tapi
saya beberkan utk anda supaya hati2
dengan nama2 di atas demi
keutuhan NKRI tercinta.
Keberadaan pangkalan militer Amerika
Serikat di Darwin, Australia semestinya tidak
perlu dijadikan isu politik di dalam negeri. Toh
selama ini pasukan militer AS dapat dengan
leluasa wirawiri di sekitar Kepulauan
Nusantara.
Kehadiran militer AS di dekat Indonesia bukan
hal baru. AS juga pernah memiliki pangkalan
militer di Filipina, lalu sampai kini masih
memiliki pangkalan logistik di Singapura.
Belum lagi perusahaan-perusahaan
multinasional yang beroperasi di Indonesia
yang walaupun secara teroritis adalah non-
state actor tetapi sesungguhnya memiliki
semacam hubungan darah dengan
kepentingan ekonomi dan politik AS yang
merupakan state actor, bertebaran di mana-
mana.
Demikian dikatakan dosen hubungan
internasional Universitas Islam Negeri (UIN)
Jakarta, Syarif Hidayatullah, Teguh Santosa,
menyikapi perdebatan mengenai pangkalan
militer AS di Darwin. Sejumlah kalangan
menduga pangkalan itu didirikan AS untuk
mempertegas dominasinya di kawasan ini.
Ada juga yang berpendapat bahwa
pangkalan itu didirikan dengan maksud
mendukung separatisme Papua.
Menurut Teguh, daripada kasak-kusuk soal
pangkalan militer AS di Darwin, jauh lebih
baik bila semua stakeholder bangsa dan
negara Indonesia dengan serius memikirkan
kembali cetak biru kebangsaan Indonesia.
“Indonesia sudah terlanjur dikuasai pihak
asing. Tidak secara militer, tetapi secara
pemikiran dan ekonomi. Kini saatnya semua
stakeholder memikirkan kembali cetak biru
kebangsaan Indonesia. Cita-cita NKRI adalah
kesejahteraan untuk semua. Tapi bagaimana
agar sejahtera itu bisa dicapai? Cukupkah
dengan pendekatan ekonomi neolib seperti
yang selama ini diyakini pemerintah?
Pertanyaan ini harus segera dijawab agar kita
keluar dari neo-penjajahan,” ujar Teguh
ketika dihubungi beberapa saat lalu (Senin,
21/11).
“Kehadiran militer AS di Australia jadi terlihat
sebagai ancaman karena Indonesia masih
gamang ingin apa, mau kemana dan
melakukan apa untuk menggapai keinginan
dan kemauan itu,” sambungnya.
Hal lain yang harus segera dilakukan
Indonesia ialah dengan sesegera mungkin
memastikan posisi dalam percaturan dunia
yang terus berubah dan semakin dinamis saat
ini. Pertemuan sejumlah kepala negara di Bali
pekan lalu semestinya dijadikan momentum
untuk menegaskan posisi itu. Tetapi, karena
posisi yang mau diisi Indonesia belum pasti,
pertemuan-pertemuan penting di Bali tersebut
berpotensi tidak bermakna banyak bagi
Indonesia.
“India dan China telah berhasil memastikan
posisi mereka di arena politik dan ekonomi
global. Begitu juga tetangga kita Malaysia
yang sekarang menjadi center of excellence
dunia akademia di kawasan Asia Tenggara.
Malaysia juga dianggap lebih mewakili wajah
Islam non-Timur Tengah. Kalau Singapura
sudah sejak lama dikenal sebagai kota servis
sehingga walaupun kecil dan tak punya
sumber daya alam tapi dapat hidup
sejahtera,” urai Teguh.
Ia mengingatkan bahwa kawasan Asia
Tenggara kembali menjadi arena pertarungan
antara berbagai kepentingan global. Bukan
hanya AS yang ingin mempertahankan
dominasi di kawasan itu. Rusia pun berusaha
mengambil keuntungan. Belum lagi India dan
China yang sedang bertarung untuk bisa
mendapatkan hati komunitas Asean.
“Semakin lama Indonesia terombang ambing,
semakin suram masa depan kita. Bisa jadi,
yang melemahkan kita bukan kehadiran
pangkalan militer asing. Tapi
ketidakmampuan kita memutuskan kita ini
mau jadi apa,” demikian Teguh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: