Gara2 chatting ketik kata talak: hancur sebuah pernikahan.

Talak tidak boleh dianggap
lelucon. Seorang penduduk Qatar yang
sembrono mendapatkan pelajaran berharga
tentang hal ini ketika ia mengetik kata “talak”
sebanyak tiga kali saat tengah melakukan
chatting dengan isterinya melalui Skype. Ia
katakan bahwa ia tidak bermaksud demikian,
tetapi Dar-ul-Uloom Deoband membuat
pernyataan bahwa pernikahannya telah
berakhir.
Bukan hanya itu. Karena kesembronoannya
saat melakukan “chatting”, pria ini bisa
menikahi kembali isteri yang telah
diceraikannya hanya setelah “halaala”, sebuah
praktek dimana wanita harus menikah dan
bercerai dengan seorang pria lain sebelum ia
bisa menikah lagi dengan suami sebelumnya.
Kantor bagian Fatwa Deoband – Dar-ul-Ifta
(Dul) – baru-baru ini menerima sebuah
permintaan tertulis dari Qatar, untuk
mendapatkan fatwa dalam sebuah situasi
yang cukup membingungkan. Pria muda ini
menyatakan bahwa ia baru-baru ini
melakukan chatting dengan isterinya lewat
Skype ketika ia mengetik kata ‘talak’
sebanyak tiga kali kendati ia mengakui bahwa
ia tidak bermaksud demikian. Pria ini
menanyakan apakah pernikahannya masih
valid.
Dar-ul-Ifta dengan tegas menyatakan pada
pria ini bahwa pernikahannya sudah berakhir.
“Ketika engkau menyebutkan kata “talak”
sebanyak tiga kali, ini artinya bahwa talak
telah terjadi, dan tidak jadi persoalan apakah
wanita ini membalas ucapanmu itu atau tidak.
Isterimu dengan demikian menjadi “haram”
bagimu; apakah kamu menyadari hukum
dalam Islam atau tidak. Engkau tidak lagi
berhak membawanya pulang ke rumah atau
melakukan upacara pernikahan yang baru
dengannya tanpa adanya sebuah ‘halaala’
yang valid. Setelah periode ‘iddah’ yang tuntas,
wanita ini bisa menikah denganmu lagi apabila
ia masih menginginimu,” kata seminari ini.
Sebagaimana yang dinyatakan oleh para
sarjana Islam senior, ‘halaala’ mensyaratkan
wanita ini untuk menuntaskan periode iddat-
nya selama 40 hari, yang segera dimulai
setelah terjadinya talak. Selama periode ini, ia
harus menjauhi semua perayaan-perayaan
dan tidak diperkenankan untuk bersosialisasi.
Pada akhir masa iddat, ia harus menikah
dengan seorang pria lain dan kemudian
pernikahan itu bisa diakhiri ketika si pria
menceraikannya. Kemudian wanita ini harus
menjalankan periode iddat berikutnya, dan
hanya setelah itu ia diijinkan untuk kembali
menikahi suaminya “yang pertama”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: