Tidak ada yg ilmiah dari quran

Quran dan Hadis berisi referensi-referensi
mengenai penciptaan dunia dan realitas-
realitas fisik yang jika diamati secara seksama
berdasarkan ilmu pengetahuan, merupakan
pandangan yang menyesatkan. Meskipun ada
usaha para apologet Muslim untuk
mengintepretasikan ulang pandangan-
pandangan tersebut, yaitu dengan berusaha
menemukan sejumlah arti yang bersifat
esoterik (hanya diketahui oleh sejumlah orang
tertentu saja), tetapi pandangan yang kontras
dengan ilmu pengetahuan dan logika,
memungkiri klaim bahwa Islam itu adalah
agama yang diinspirasikan oleh Tuhan. Mari
kita lihat beberapa contoh di bawah ini:
Sahih Bukhari Volume 4, Buku 54, Nomor 414
“…Ia (Muhammad) berkata,”Pertama-tama,
tidak ada satupun yang ada kecuali Allah, dan
(kemudian Ia menciptakan SinggasanaNya).
SinggasanaNya itu ada di atas (mengatasi) air,
dan Ia menulis segala sesuatu dalam KitabMu
(di Surga) dan menciptakan langit dan bumi…”
Klaim bahwa Singgasana Allah ada di atas
(mengatasi) air juga disebutkan dalam Quran
Sura 11.007
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa, dan adalah
singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air”
Apakah ini masuk akal? Perhatikan bahwa
dalam Hadis di atas, si penterjemah telah
menambahkan sebuah parenthesis (tanda
kurung), dimana ia telah menuliskan
(“kemudian Ia menciptakan singgasana-Nya”).
Tentunya ia telah melihat bahwa jikalau
sebelumnya dikatakan tidak ada sesuatu apa
pun yang eksis, maka singgasana Allah juga
tidak mungkin sudah ada.
Bagaimana dengan air? Ayat ini dan hadis
yang mendukung, menyatakan secara tidak
langsung bahwa air eksis sebelum Tuhan
menciptakan dunia. Pertanyaannya, dimana air
itu ditempatkan? Bukankah air membutuhkan
tempat? Tentu saja jagat raya harus ada dulu
untuk menjadi tempat meletakkan air
tersebut. Dan bisakah bumi eksis tanpa ruang
atau jagat raya sebagai tempatnya? Di sini,
berkenaan atas urutan penciptaan, terdapat
kesalahan kronologis yang sangat kasat mata.
Kosmos Menurut Qur’an dan Hadis
Item – Tidak Ada Deskripsi
01 Tahta Allah/Tuhan
02 Langit ketujuh
03 Air di atas Langit/Samudera Surgawi
04 Gerbang Surga/langit
05 Bumi yang datar
06 Air laut yang asin/Samudera dunia/Laut
yang luas
07 Air tawar/Samudera di bawah tanah
(subterannean ocean)
08 Rumah untuk bulan
09 Rumah untuk bintang-bintang
10 Samudera kosmik
11 Tiang-tiang bumi dan langit yang tak
terlihat
12 Neraka/Bumi ketujuh
13 Palang antara dua laut
Menurut Muhammad, bumi kita ini datar dan
terdiri dari tujuh lapisan. Ada sejumlah ayat-
ayat Quran dan hadis yang
mengkonfirmasikan hal ini:
Q: 18: 86
Hingga apabila dia telah sampai ke tempat
terbenam matahari, dia melihat matahari
terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam,
dan dia mendapati di situ segolongan umat.
Kami berkata: “Hai Dzulkarnain, kamu boleh
menyiksa atau boleh berbuat kebaikan
terhadap mereka.
89. Kemudian dia menempuh jalan (yang lain).
90. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat
terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati
matahari itu menyinari segolongan umat yang
Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu
yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu,
Secara umum diyakini bahwa Zul-qarnain
adalah Alexander Agung yang, menurut cerita-
cerita kuno telah menaklukkan dunia dari
ujung yang satu hingga ujung lainnya.
Kebenarannya adalah, Matahari terbit dan bisa
dilihat di SEMUA tempat. Orang tak perlu pergi
ke ‘jalan yang lain’ atau ke ujung dunia yang
lain untuk menemukan tempat dimana ia
terbit atau dimana ia berada. Di sini tampak
jelas bahwa Muhammad, sama seperti orang-
orang sejamannya, meyakini bahwa dunia ini
datar dan Matahari yang bergerak di langit,
terbit di satu tempat dan terbenam di tempat
lainnya. Hadis berikut mendukung ide ini:
Sahih Bukhari Volume 4, Buku 54, Nomor 421
Dikisahkan oleh Abu Dhar:
Nabi bertanya padaku ketika matahari
terbenam,”Tahukah engkau kemana matahari
pergi (pada saat ia terbenam)?” Aku
menjawab,”Allah dan RasulNya tahu lebih
baik.” Ia berkata,”Ia berjalan hingga ia sujud di
bawah Tahta dan meminta ijin untuk terbit
kembali, dan ia diijinkan dan kemudian (akan
ada suatu waktu ketika) saat ia kembali akan
bersujud, sujudnya itu tidak diterima, dan ia
akan minta ijin untuk melakukan apa yang
biasanya ia lakukan, namun tidak diijinkan,
tetapi ia akan diperintahkan untuk kembali
ketika saatnya telah tiba dan dengan demikian
ia akan terbit dari sebelah barat. Dan itu
adalah intepretasi dari Penyataan Allah: “Dan
matahari menjalankan pekerjaannya yang
tetap berdasarkan sebuah ketentuan (dekrit).
Itulah Dekrit Allah Yang Maha Dimuliakan,
Yang Maha Tahu.”
Ini adalah cerita dongeng. Matahari bergerak
ke bawah tahta Tuhan, kemudian bersujud
dan meminta ijin untuk terbit kembali di hari
berikutnya??? Ini hanya cerita dongeng untuk
anak-anak kecil !!!
Hal yang nggak masuk akal tidak berhenti
sampai di sini. Quran 78:6 mengatakan:
Bukankah Kami sudah menjadikan bumi
sebagai sebuah tempat tidur?
“Tempat tidur” adalah terjemahan yang tepat
untuk mehad, yang dilakukan oleh Hilali Khan,
Sher Ali dan Sale. Palmer dan Rodwell
menterjemahkannya sebagai “dipan” dan
Arberry menterjemahkan kata itu sebagai
“ayunan/buaian”. Para penterjemah lain punya
pandangan yang tidak jelas dan
menterjemahkannya sebagai “suatu bidang/
ruang atau permukaan yang luas. Jelas
mereka melihat bahwa ini adalah ayat yang
salah. Bumi tidak terlihat seperti sebuah
tempat tidur, kecuali anda adalah seorang
Arab yang hidup di abad ke-7, yang tidak
memiliki pengetahuan mengenai dunia.
Semua ayat dan hadis ini menggambarkan
Bumi sebagai sesuatu yang datar, dimana
Matahari terbit dari satu sisi dan terbenam
dalam air yang gelap/lumpur di sisi yang
berlawanan. Apakah ada sebuah Tahta di
langit atau di “bawah bumi” dimana Matahari
bisa berhenti dan meminta ijin untuk terbit
kembali?
Kemustahilan dari kisah-kisah dongeng ini
sesungguhnya bisa dijelaskan sendiri. Namun
orang-orang Muslim tidak pernah
mempertanyakannya. Jika hal itu ada dalam
Quran, mereka dengan yakin mengatakan
bahwa hal itu pastilah benar – kendati secara
kasat mata merupakan hal yang mustahil.
Dongeng ini sebenarnya berasal dari budaya
atau pengetahuan yang sudah ada sebelum
Islam muncul. Tahun 1952, Theodor H. Gaster
menyusun sebuah buku yang berjudul, The
Oldest Stories in the Word (kisah-kisah terkuno
dalam dunia). Ini adalah sebuah koleksi dari
tradisi-tradisi Babilonia, orang Het dan
masyarakat Kanaan yang hidup 3500 tahun
lalu. Kisah-kisah ini sempat hilang namun
muncul kembali di abad ke-20. Kemiripan dari
kisah-kisah kuno itu dengan yang ada di
Quran sangatlah mencengangkan. Kisah-kisah
itu membuktikan bahwa Quran bukanlah
sebuah kitab yang bersifat asli Ilahi, tetapi
merupakan koleksi dongeng-dongeng kuno
yang merupakan bagian warisan tuturan dari
legenda-legenda orang-orang Arab (yang tidak
akurat).
Dalam hadis lain, Muhammad membandingkan
lintasan Matahari dengan sebuah busur.
Bukhari, Volume 4, Buku 52, Nomor 51:
Diriwayatkan oleh Abu Huraira: Nabi
berkata,”Sebuah tempat di Firdaus yang
kecilnya sama seperti sebuah busur adalah
lebih baik dibandingkan semua tempat dimana
matahari terbit dan terbenam (yaitu, seluruh
dunia).”
Tampak jelas bahwa Muhammad menganggap
perlintasan matahari membentuk sebuah
lengkungan bagaikan sebuah busur sejak ia
terbit hingga ia terbenam.
Inilah cara pergerakan matahari yang terlihat
dari Bumi. Bagi orang primitif, tampak bahwa
matahari terbit dari Timur dan terbenam di
sebelah Barat dengan bentuk seperti busur di
langit.
Tak ada yang bersifat ilmiah dalam Quran.
Buku ini ditulis pada abad ke-7 M, dan
merefleksikan kepercayaan kosmologis
popular yang menjadi karakter dari periode itu.
Muhammad juga seorang yang buta huruf.
Pengetahuannya mengenai dunia hanya
berdasarkan pada apa kata orang (yang
dianggapnya logis). Bahkan pada masa ia
hidup, juga terdapat orang-orang dengan
pemahaman yang lebih baik mengenai
kosmos.
Seperti orang-orang lainnya pada masanya, ia
beranggapan bahwa matahari dan bulan
bergerak mengelilingi bumi.
36:38-40 (Asad): Dan matahari berjalan di
tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan
Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-
manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke
manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai
bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin
bagi matahari mendapatkan bulan dan
malampun tidak dapat mendahului siang. Dan
masing-masing beredar pada garis edarnya.
Setiap anak sekolah bisa melihat bahwa
deskripsi mengenai sistem peredaran matahari
seperti yang digambarkan ini adalah salah.
Matahari dan bulan tidak saling mengejar satu
sama lain. Sesungguhnya apa yang hilang di
sini adalah rotasi bulan dan bumi terhadap
matahari yang membuat adanya siang dan
malam, dan posisi bulan terhadap matahari
(yang berevolusi dan berotasi pula terhadap
bumi) yang membuat keduanya tampak
seolah saling mengikuti satu sama lainnya.
Bagi Muhammad semuanya ini adalah sebuah
misteri, sebuah mujizat yang telah ditetapkan
oleh Allah. Ia terheran-heran dengan fakta
bahwa “matahari dan bulan dijadikan menurut
perhitungan.” (Q. 55:5) Dan mengira bahwa
langit adalah sebuah atap yang menaungi
bumi dan bahwa “Ia menciptakan malam dan
siang, dan matahari dan bulan, masing-masing
dalam sebuah orbit yang melayang,” (Q.
021:032-33).
Kesalahan-kesalahan ini menunjukkan bahwa
penulis Quran bukanlah oknum yang
menciptakan alam semesta, melainkan
seorang pria awan yang dungu ilmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: