Bagaimanakah anak ibrahim di tebus?

Orang-orang Muslim menerima ajaran
Al-Quran, yang mengatakan bahwa manusia bisa
diselamatkan dari neraka dan mendapatkan surga
dengan melakukan perbuatan baik. Inilah sebabnya
mereka menolak keyakinan Kristen akan penebusan
dosa atau melalui kematian Kristus sebagai pengganti
TANTANGAN:
di kayu salib. Menurut iman ini, manusia tidak bisa
menyelamatkan diri sendiri melalui perbuatan baik.
Namun, keselamatan hanya bisa terjadi melalui
adanya pihak ketiga, yang sebagai pengganti
menanggung hukuman atas dosa-dosa kita. Benarkah
memang tidak ada sama sekali jejak penebusan
melalui kematian pengganti dari pihak lain yang bisa
ditemukan di dalam Al-Quran? Haruskah orang
Muslim, dengan demikian, secara penuh menolak
iman penebusan melalui kematian Kristus sebagai
pengganti bagi kita di kayu salib?
JAWABAN: Secara sepintas memang nampak
demikian, karena Al-Quran (Surat an-Nisa’ 4:157)
mengatakan bahwa Kristus tidaklah dibunuh ataupun
disalibkan, karena Ia sama sekali tidak mati. Justru,
Allah dikatakan sudah menyelamatkan Dia dari
musuh-musuhnya, yang berniat untuk membunuh-
Nya. Bukannya mati dan bangkit dari kematian, Ia
dikatakan diangkat langsung ke surga (Surat an-Nisa’
4:158), dimana Ia, menurut tradisi Islam (Hadits), hidup
saat ini sampai hari kedatangan-Nya yang kedua kali.
Lebih lagi, menurut Al-Quran, bahkan kalaupun Kristus
mati, kematian-Nya tidak bisa menjadi pengganti
menanggung hukuman yang seharusnya dipikul
manusia, karena, secara jelas Al-Quran mengajarkan,
tidak ada manusia yang dibebani oleh dosa yang bisa
memikul beban dosa orang lain ( Surat al-An’am 6:164,
al-Isra’ 17:15; Fatir 35:18; al-Zumar 39:7 and an-Najm
53:38).
Namun, kalau diselidiki secara lebih mendalam, ada
kekecualian yang bisa ditemukan. Salah satu bagian
yang paling penting di dalam Al-Quran, yang berbicara
mengenai penebusan dari pihak ketiga, bisa
ditemykan dalam konteks kisah mengenai anak
Abraham yang dikorbankan sebagai korban
sembelihan.
Kisah ini ditemukan di dalam Surat as-Saffat 37:99-111:
“99 Dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya aku pergi
menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi
petunjuk kepadaku. 100 Tuhanku, anugrahkanlah
kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang
yang saleh.’ 101 Maka Kami beri dia khabar gembira
dengan seorang anak yang amat sabar 102 Maka
tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup)
berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:
“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi
bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya
Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar.’ 103 Tatkala keduanya telah berserah diri
dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya),
(nyatalah kesabaran keduanya ) 104 Dan Kami
panggillah dia: “Hai Ibrahim 105 sesungguhnya kamu
telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya
demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-
orang yang berbuat baik 106 Sesungguhnya ini benar-
benar suatu ujian yang nyata.’ 107 Dan Kami tebus
anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. 108
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di
kalangan orang-orang yang datang kemudian,: 109
(yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. 110
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-
orang yang berbuat baik.. 111 Sesungguhnya ia
termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
Ayat yang paling penting adalah ayat 107. Kalau
diterjemahkan secara harafiah dari bahasa Arab,
maka ayat itu berarti demikian “Dan sudah
menebuslah kami akan dia dengan sebuah korban
sembelihan yang agung (besar).” (Dalam transkripsi
Arab: wa-faday-naa-hu bi-dhabhin ‘adhim) Untuk bisa
menangkap keseluruhan kekuatan makna dari ayat
Al-Quran ini, kita perlu merenungkan setiap unsur di
dalam wahyu Allah ini. Kita akan melakukannya
dengan mengajukan pertanyaan yang muncul baik
dari ayatnya maupun dari konteksnya.
1. “Dan sudah menebus …” (wa-faday-): Di sini Al-
Quran dengan jelas memberikan kesaksian akan
adanya penebusan (fidya, fidaa’) yang sudah terjadi
melalui adanya korban sembelihan. Atas dasar
pengajaran yang ada di kebanyakan bagian lain di
dalam Al-Quran, seorang Muslim akan bertanya
kepada dirinya sendiri : Mengapa Allah harus
melakukan sesuatu (menebus, memberikan korban
untuk disembelih, mengorbankannya)” Mengapa ia
tidak membiarkan saja Abraham melakukan hal itu
kepada anaknya? Mengapakah tebusan itu
diperlukan?
2. “… kami …” (-naa-): Al-Quran tidak hanya
mengatakan tentang telah terjadinya penebusan,
tetapi bahwa Allah sendirilah sang Penebus itu.
Keagungan dari kata jamak “kami” di sini bukan
menunjuk kepada malaikat atau manusia, tetapi
kepada Allah sendiri. Di sini orang Muslim tidak bisa
tidak mengajukan pertanyaan: Mengapa bukan
Abraham sendiri yang menebus anaknya? Mengapa
harus Allah yang melakukannya? Dan karena korban
sembelihan itu disebut sebagai “besar (agung),” pasti
berarti bahwa korban itu bukan berasal dari dunia ini,
tetapi dari surga. Di sini muncul pertanyaan
selanjutnya bagi orang Muslim: Mengapa bukan
Abraham sendiri yang menyediakan korban untuk
disembelih, atau paling tidak membayar untuk korban
itu? Mengapa korban sembelihan itu harus dari surga,
bukan dari dunia ini?
3. “… dia …” (-hu): Kata ini menunjuk kepada anak
Abraham, yang dalam ketaatan yang besar menuruti
ayahnya untuk melalukan semua yang diperintahkan
Allah kepadanya. Di sini seorang Muslim akan
bertanya : Apakah anak Abraham memang bersalah,
sehingga ia harus ditebus? Tentu saja tidak, karena ia
merupakan teladan ketaatan yang mutlak. Atau
apakah Abraham melakukan dosa ketika ia mau
mengorbankan anaknya, sehingga ia yang harus
ditebus? Sekali lagi jawabannya, “TIDAK!” Karena
Allah dengan jelas yang memerintahkan dia
mengorbankan anaknya. Dari situ akan muncul
pemikiran baru : Perbuatan baik yang saya penuhi
tidak membebaskan saya dari dosa yang saya
lakukan.
4. “… dengan sebuah kurban sembelihan, …” (bi-
dhabhin): Al-Quran memberikan kesaksian bahwa
sebuah korban penebusan dibunuh, karena ia menjadi
korban sembelihan, yang mati ketika disembelih. Di
sini seorang Muslim akan bertanya: Mengapa perlu
menyembelih sesuatu dan mencurahkan darah, untuk
bisa menebus anak itu?
5. “… yang agung (besar).” (’adhim): Ini adalah kata
yang paling menarik di dalam ayat ini. Kata ini
mendorong adanya pertanyaan ini di dalam diri
seorang Muslim: Mengapa korban yang disembelih
adalah agung (besar)? Apakah korban itu agung
(besar) karena ia berasal dari Allah, atau ia agung
(besar) dari dirinya sendiri? Karena salah satu dari 99
nama Allah adalah al-’adhim (kebesaran yang agung),
apakah bisa dikatakan bahwa korban yangdisembelih
adalah sesuatu yang ilahi, karena ia memiliki nama
ilahi? Kalau anda mau mendapatkan jawaban yang
memuaskan untuk semua pertanyaan yang diajukan
sendiri oleh Al-Quran, maka hanya ada satu jalan
keluar: Anda harus menerima Injil dan percaya
kepada pengorbanan Kristus yang menebuskan di
kayu salib bagi segala dosa dunia. Korban yang besar
dari Allah ini sudah menebus anak Abraham, dan
anda juga!
KABAR BURUK: Al-Quran memang menuliskan,
bertolak belakang dengan pandangan Muslim secara
umum, jejak tentang adanya kematian pengganti
yang menebuskan dari pihak lain – yaitu, dalam kisah
tentang bagaimana anak Abraham ditebuskan.
KABAR BAIK: Untuk alasan ini seorang Mislim bisa,
bahkan sesuai dengan perkataan Al-Quran sendiri,
menangkap iman yang besar kepada kematian Kristus
sebagai pengganti bagi kita di kayu salib. Umat Allah,
dan dengan itu ia akan bisa memahami bagian di
dalam Al-Quran, yang tidak akan bisa dimengerti
tanpa keyakinan itu.
KESAKSIAN: Nama saya Barakatullah dan saya
berasal dari Mesir. Saya dahulu seorang perwira
tentara dan seorang pemimpin agama Islam. Suatu
hari saya melihat secarik kertas yang menarik
perhatian saya. Tertulis di dalam kertas itu “Tetapi Aku
berkata kepadamu!” Saya lalu mengambilnya dan
membaca kelanjutannya. Kristus berbicara disana dan
Ia berkata, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah
sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi
Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan
berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
Ayat dari Injil ini (Matius 5:43-44) sangat mengejutkan
saya. Sebagai seorang Muslim saya tahu tentang
Kristus. Apakah Ia memiliki hak untuk mengubah
perintah dari Allah? Apakah Ia punya otoritas untuk
melakukannya? Untuk bisa menjawab pertanyaan ini,
saya mengikuti kursus sore hari yang diadakan oleh
Universitas al-Azhar di Kairo.
Selama empat tahun saya belajar ilmu perbandingan
agama dari sudut pandang Islam, dan bisa
mendapatkan gelar akademis. Saya harus
mempelajari agama Hindu, Budha, Konghucu,
Yudaisme, dan Kristen, termasuk Kitab Suci mereka.
Dengan tekun saya mempelajari Al-Quran, dan
membandingkannya dengan kitab-kitab itu. Melalui
penyelidikan itu saya menjadi Kristen. Saya
menemukan bahwa Kristus memiliki hak untuk
mengubah Hukum Allah, karena Dia, seperti Allah,
memiliki hak untuk memerintah manusia agar taat
kepada-Nya, sebagaimana yang ditegaskan di dalam
Al-Quran (Surat Al ‘Imran 3:50 dan as-Zukhruf 43:63)
Hari ini saya menceritakan kepada orang-orang
Muslim apa yang saya pelajari pada waktu itu.
Penyelidikan mengenai bagaimana anak Abraham
ditebus, seperti yang anda baca dalam artikel ini,
adalah penemuan yang saya dapatkan pada waktu
itu. Penemuan itu menolong saya untuk percaya
kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang
disalibkan. Saya dan keluarga saya mengalami
banyak penganiayaan sejak saat itu. Tetapi sampai
hari ini, saya tetap setia kepada Kristus.
DOA: Saya bersyukur dari lubuk hati saya, ya Allah
yang penuh rahmat, bahwa Engkau sudah menebus
anak Abraham. Engkau benar kalau membuang saya
ke neraka karena dosa saya. Tetapi Engkau
menetapkan jalan yang baru, tentang cara saya bisa
diselamatkan. Saya percaya kepada penebusan yang
Engkau berikan, agar saya tidak harus masuk neraka.
PERTANYAAN: Menurut Al-Quran, siapakah yang
menebus anak Abraham? Mengapa ia perlu ditebus?
Siapa yang menebus anda dari hukuman neraka?
UNTUK DIHAFALKAN: “Karena begitu besar kasih
Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan
Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang
percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh
hidup yang kekal.”
(Yohanes 3:16 – Perkataan Kristus di dalam Injil)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: